Demo di BPS Gereja Toraja, PPGT Serukan Kritik Harus Objektif dan Proporsional
TORAJA UTARA — Demonstrasi di Kantor Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja (BPS-GT) beberapa waktu lalu menjadi sorotan publik. Ketua Umum Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT), Malvin, menegaskan bahwa Gereja bukan pihak yang seharusnya disalahkan dalam aksi protes tersebut.
Malvin menekankan pentingnya kritik yang objektif dan proporsional. Menurutnya, Gereja berperan sebagai suara moral dan penjaga nilai adat serta iman, sementara pembongkaran arena “Tedong Petarung” adalah keputusan aparat kepolisian, bukan kebijakan institusi gereja.
“Gereja, sebagai lembaga moral, seharusnya menyuarakan kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai kenabian. Menjadikannya sasaran protes adalah hal yang patut disayangkan,” kata Malvin, Kamis (19/3/2026).
Pemicu demo adalah pembongkaran arena “Tedong petarung”. Malvin menegaskan, keputusan itu bukan dari Gereja, melainkan pihak kepolisian berdasarkan kesepakatan keluarga penyelenggara. “Otoritas dan tanggung jawab operasional berada pada aparat hukum, bukan institusi gereja,” jelasnya.
PPGT hadir bukan untuk menyerang budaya, tetapi menjaga kemurnian nilai adat dan iman dari praktik yang menyimpang.
Malvin menilai demonstran kehilangan arah. “Yang memegang palu tidak didatangi, yang meniup peluit tidak diprotes, sementara suara moral justru dijadikan sasaran. Gereja tidak boleh dijadikan tameng atau objek pelampiasan ketidakpuasan yang salah sasaran. Kritikan harus bijak, objektif, dan proporsional,” katanya.
PPGT menegaskan sikapnya:
- Menolak penyelewengan adat dan budaya, termasuk ritus yang dijadikan transaksi ekonomi atau perjudian terselubung.
- Menjaga kemurnian budaya Toraja agar tetap sakral dan bermartabat.
- Mengambil peran edukatif di masyarakat, terutama generasi muda, melalui sosialisasi, diskusi, dan pembinaan.
Selain itu, PPGT aktif menentang narkoba, perjudian berkedok adat, seks bebas, dan dekadensi moral lainnya.
PPGT mendorong gerakan moral kolektif dengan gereja, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat.
“Keberpihakan kami tidak pernah berubah: berdiri di atas kebenaran, menjaga nilai iman, dan merawat budaya Toraja. PPGT bukan oposisi budaya, tetapi penjaga makna agar yang luhur tetap terpelihara,” tutup Malvin.
(Rs/Sn)

Tinggalkan Balasan