PPGT Apresiasi Polda Sulsel Tangkap Oknum Polisi, Ajak Warga Toraja Bersatu Lawan Narkoba secara Kolektif
SENTRUMnews.com, TORAJA UTARA – Perang melawan narkotika di Toraja Utara memasuki babak baru. Dugaan keterlibatan aparat dalam jaringan narkoba membuat respons tak hanya datang dari kepolisian, tetapi juga dari organisasi kepemudaan gereja.
Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) menyampaikan apresiasi atas langkah tegas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan yang menangkap KASAT dan KANIT Narkoba Polres Toraja Utara. Bagi PPGT, penindakan ini menjadi ujian sekaligus momentum pemulihan integritas institusi penegak hukum.
Ketua Umum PPGT, Malvin, menilai tindakan tersebut menunjukkan komitmen penegakan hukum tanpa pandang bulu.
“Langkah yang dilakukan Polda Sulsel patut diapresiasi. Penegakan hukum harus berjalan secara transparan dan akuntabel, termasuk terhadap oknum aparat yang menyalahgunakan kewenangan. Ini menjadi momentum penting untuk memulihkan kepercayaan publik,” ujar Malvin dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Secara sosiologis, kasus ini memperlihatkan narkotika bukan sekadar persoalan moral individu. Ketika jejaringnya menyentuh struktur kekuasaan, persoalan ini menjadi ancaman sistemik yang berpotensi merusak tatanan sosial, menurunkan kepercayaan publik, dan mencederai legitimasi aparat.
Sementara itu, Ketua V Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Yusuf Paliling, menegaskan bahwa perjuangan melawan narkoba adalah tanggung jawab kolektif masyarakat.
“Mencintai Toraja berarti berjuang untuk membebaskan Toraja dari semua bentuk penyakit sosial yang merusak generasi,” katanya. Pernyataan itu menempatkan persoalan narkotika dalam dimensi moral, spiritual, dan keberlanjutan generasi.
Ketua Bidang Sosial dan Lingkungan Hidup PPGT, Arnes, menyoroti dampak narkoba terhadap generasi muda. Menurutnya, narkotika tidak hanya merusak kesehatan fisik dan reproduksi, tetapi juga melemahkan daya pikir kritis dan karakter individu.
“Narkotika berdampak langsung pada kerusakan kesehatan, gangguan psikologis, serta degradasi kualitas sumber daya manusia,” ujarnya. PPGT
mengajak seluruh elemen masyarakat. Dari Keluarga, sekolah, gereja, hingga komunitas adat, lebih memperkuat pencegahan melalui pendidikan nilai dan literasi bahaya narkotika.
Kasus ini menegaskan bahwa penegakan hukum yang tegas penting, tetapi tidak cukup.
Pengawasan internal aparat, pembinaan moral, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci memutus mata rantai peredaran narkoba.
Di Toraja Utara, perang melawan narkoba membutuhkan keberanian aparat menindak pelanggaran di tubuhnya sendiri dan kesadaran kolektif masyarakat menjaga generasi muda.
(Rs/Sn)

Tinggalkan Balasan