SENTRUMNEWS.COM

Informasi Menginspirasi

Jangan Wariskan Dendam: Pilih Damai untuk Generasi Kita

M. Hasanuddin, S.Kom.,M.Kom. (Foto: Dok. Ist)

Penulis: M. Hasanuddin, S.Kom.,M.Kom. (Dosen Universitas Mega Buana Palopo)

SAUDARA-SAUDARAKU yang tercinta dan terkasih di Luwu raya Khususnya di beberapa daerah yang terlibat dalam konflik antar kelompok tertentu.

Mungkin Kita perlu merenung sejenak dan bertanya pada hati nurani yang terdalam : Sampai kapan kita menghabiskan energi untuk saling bersiteru? lalu bagaimana nasib keluarga dan generasi kita jika konflik ini terus berlanjut?

Mari sejenak kita menenangkan diri, menarik napas di tengah riuhnya ketegangan di daerah yang  kita cintai ini. Seruan ini hadir bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari rasa peduli, kasih dan kegelisahan yang mendalam terhadap situasi yang sedang kita hadapi bersama.

Konflik antara dua kelompok masyarakat dalam beberapa pekan terakhir telah menyita perhatian banyak orang dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, ragam respon yang muncul namun dibalik itu semua, tersimpan keresahan di setiap rumah—ada ibu yang tak lagi tidur nyenyak dan anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan.

Para pengguna jalan yang tidak terlibat pun kini merasa terancam dan ketertibannya menjadi terganggu. Dampaknya merambat hingga melemahkan denyut ekonomi dan kehidupan sosial daerah kita. Lebih jauh lagi, masa depan seakan dipertaruhkan karena energi yang seharusnya digunakan untuk membangun dan menyejahterakan keluarga justru habis untuk mempertahankan ego dan amarah.

Saudara-saudaraku yang tercinta. Sering kali kita tidak menyadari bahwa dibalik setiap pertentangan dan perbedaan, ada hati yang sama-sama berharap untuk dipahami dan dihargai. Memang, hal itu tidak selalu mudah, tapi nilainya jauh lebih tinggi dari pada kemenangan yang dibangun di atas kekalahan pihak lain yang membuatnya menderita. Memilih untuk berdialog dari pada menyerang, memilih untuk memahami dari pada menghakimi kemudian secara bersama-sama menciptakan ruang yang lebih aman, tenang dan manusiawi bagi semua adalah langkah yang jauh lebih bijak bagi kita.

Saling menyerang mungkin terasa seperti cara membela diri, namun pada kenyataannya kita semua sedang berjalan menuju kerugian yang sama. Senjata rakitan jenis papporo’ dan peluncur tidak pernah memilih siapa yang menjadi korban; yang ditinggalkannya hanyalah duka mendalam bagi orang tua, pasangan dan anak-anak kita.

Seperti yang diingatkan Hannah Arendt “Bahaya dari pertikaian bukanlah karena ia menghancurkan musuh, melainkan karena ia menghancurkan ruang publik yang kita tinggali bersama.” Kehilangan satu nyawa hanya meninggalkan luka besar yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kemenangan apa pun dalam konflik ini. Jika tidak segera dihentikan, semua ini hanya akan melahirkan dendam baru yang semakin dalam dan terus berulang.

Saudara-sodara ku.. Sudah saatnya kita menyadari dan menghentikan pertikaian ini, Tutup rapat ruang untuk bertumbuhnya kebencian, kita kembali pada jati diri sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling memuliakan. Leluhur kita telah mewariskan falsafah hidup: Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi. Sipakatau mengajarkan kita untuk saling memanusiakan, melihat satu sama lain bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama yang memiliki martabat. Sipakainge mengingatkan kita untuk saling menasihati dalam kebaikan, bukan saling menyulut amarah. Dan Sipakalebbi mengajarkan kita untuk saling menghormati, menjaga kehormatan diri dan orang lain dalam setiap tindakan.

Tidak ada kata terlambat untuk menghentikan konflik dan menumbuhkan rasa empati. Bersama pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta aparat keamanan TNI/Polri, mari kita ciptakan ruang dialog—duduk bersama bukan sebagai pihak yang berseberangan, melainkan sebagai saudara yang sama-sama mendambakan ketenangan hidup dengan harapan kita dapat membangun jembatan menuju solusi yang bermartabat serta menjadikan perdamaian sebagai warisan paling berharga bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Klik untuk Baca:

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!