Perum BULOG Kucurkan Dana Riset ke UNANDA, Luwu Raya Diproyeksikan Jadi Episentrum Pangan Nasional
SENTRUMnews.com, PALOPO — Universitas Andi Djemma (UNANDA) Palopo bersiap mengambil peran lebih besar dalam penguatan pangan nasional. Melalui kerja sama dengan Perum BULOG, kampus ini akan menyalurkan bantuan biaya penelitian bagi mahasiswa strata satu (S1) dan strata dua (S2) yang fokus pada isu pangan, khususnya di wilayah Luwu Raya.
Rektor UNANDA, Dr Annas Boceng, mengatakan bantuan penelitian tersebut akan diberikan kepada sekitar 10 hingga 14 mahasiswa setelah melalui proses seleksi ketat. Judul penelitian akan diprioritaskan pada tema yang sejalan dengan pengembangan pangan nasional serta potensi lokal Luwu Raya.
Hal itu disampaikan Annas pada kegiatan kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Perum BULOG di Gedung Opu Dg Risaju, Palopo, Senin (9/2/2026), yang dihadiri langsung Wakil Direktur Utama BULOG Dr Marga Taufiq.
“Judul-judul penelitian harus betul-betul sejalan dengan pengembangan pangan kita di Indonesia, khususnya di Luwu Raya. Itu yang akan kita danai dari Perum BULOG,” kata Annas dalam sambutannya.
Besaran anggaran penelitian belum diumumkan secara resmi. Annas dengan candaan, nilainya bisa saja melampaui perkiraan awal. “Siapa tahu saya sebut 100 juta, ternyata 500 juta,” ujarnya disambut tawa hadirin. Ia berharap dukungan BULOG terhadap riset di UNANDA bisa berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan kuliah umum Wakil Direktur Utama Perum BULOG, Marga Taufiq, yang juga merupakan putra daerah Luwu.
Annas menyebut kehadiran Marga Taufiq sebagai momentum penting, mengingat rencana kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) telah diwacanakan sejak tiga tahun lalu.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Palopo, Zulkifli Halid, dalam kesempatan yang sama menyoroti sisi kepemimpinan Marga Taufiq. Ia mengenang kedisiplinan Marga sejak bertugas sebagai perwira TNI di Palopo.
“Beliau sangat disiplin, tapi juga punya empati luar biasa kepada bawahan. Ini salah satu putra terbaik Luwu yang berkiprah di tingkat nasional,” kata Zulkifli.
Dalam paparannya, Marga Taufiq menegaskan posisi strategis Luwu Raya sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan. Wilayah ini dinilai memiliki keragaman komoditas yang jarang dimiliki daerah lain, mulai dari padi hingga sagu.
“Kalau distribusi tidak efisien, yang rugi petani. Karena itu harus dijaga dari hulu sampai hilir,” kata Marga. Ia mencontohkan komoditas sagu yang membutuhkan pengelolaan berkelanjutan hingga mampu menarik investor.
BULOG, kata dia, saat ini mengelola 1.540 unit gudang dengan daya tampung sekitar 3,8 juta ton, atau baru delapan persen dari total produksi nasional. Target ke depan, kapasitas serapan ditingkatkan hingga 30 persen atau sekitar 9 juta ton sebagai penyangga stok nasional dan regional guna merespons fluktuasi harga.
Ia juga menyebut Sidrap dan Luwu Raya sebagai sentra beras penting. “Beras Sidrap itu asalnya juga dari sini,” ujarnya.
Kuliah umum dimoderatori Dr. Bakhtiar, yang turut bernostalgia dengan Marga Taufiq saat menjabat Dandim Sawerigading yang suka dalam mendukung manajemen Gaspa Palopo.
Marga Taufiq menyinggung pengelolaan pergudangan nasional, sentra penggilingan padi di 11 wilayah, termasuk Walenrang-Lamasi (Walmas) di Kabupaten Luwu, serta transformasi kelembagaan BULOG.
“Semua kepala daerah Luwu Raya harus memiliki visi besar di sektor pangan. Potensi padi dijaga melalui sentra penggilingan padi di 11 daerah, yakni sembilan di Jawa, satu di Lampung, dan satu di Lamasi segera dibangun,” sebut Marga.
Di bawah Perum BULOG, distribusi pangan kini didukung perusahaan logistik yang menjangkau hingga pelosok. Lebih dari Rp 1 triliun anggaran digelontorkan untuk distribusi beras nasional. BULOG juga menguatkan peran sebagai regulator sekaligus promotor pangan.
“Dengan kelembagaan yang kuat, infrastruktur modern, dan rantai pasok terintegrasi, BULOG siap mewujudkan swasembada pangan dan kesejahteraan petani,” ujar Marga.
Bagi UNANDA, kolaborasi ini menjadi langkah awal menjadikan kampus sebagai laboratorium kebijakan pangan berbasis lokal, sekaligus mempertegas posisi Luwu Raya sebagai poros strategis pangan Indonesia timur.
(Sn/Jn)

Tinggalkan Balasan