Salat Jumat Berjamaah Jadi Pembuka Aksi Pemekaran Luwu Raya di Palopo
SENTRUMnews.com, PALOPO — Ratusan mahasiswa dan warga Palopo bersiap menggelar aksi tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya dan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah. Aksi tersebut akan diawali dengan salat Jumat berjamaah di Lapangan Pancasila, Balai Kota Palopo, sebagai simbol gerakan yang damai dan bermartabat.
Menjelang aksi, massa menggelar rapat konsolidasi di Taman Baca Kota Palopo, Kamis malam (22/1/2026). Konsolidasi ini dilakukan untuk mematangkan agenda aksi, menyatukan komando lapangan, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan terukur.
Usai salat Jumat berjamaah, massa rencananya akan melakukan long march menuju Kelurahan Sampoddo. Aksi jalan kaki tersebut akan dijadikan sebagai bentuk tekanan politik kepada pemerintah terkait tuntutan pemekaran wilayah di Tana Luwu.
Rapat konsolidasi dipimpin oleh tokoh aktivis Luwu Raya, Afrianto. Dalam arahannya, Afrianto menekankan pentingnya kesatuan komando dan kedisiplinan massa agar aksi tidak keluar dari kesepakatan bersama.
Menurut Afrianto, aksi yang digelar bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari strategi perjuangan yang telah dirancang secara kolektif. Ia menyebut tekanan politik yang terukur diperlukan untuk mendorong percepatan realisasi pemekaran wilayah.
“Aksi ini sesuai kesepakatan kita. Titik kumpul di Lapangan Pancasila Kota Palopo, lalu dilanjutkan ke Kelurahan Sampoddo. Di sana kita akan melakukan pemblokiran jalan,” ujar Afrianto.
Ia meyakini pembentukan Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemekaran, kata dia, menjadi upaya mendekatkan pelayanan publik dan mempercepat pemerataan pembangunan.
“Kalau Provinsi Luwu Raya terbentuk, masyarakat Tana Luwu akan semakin berdaya,” katanya.
Afrianto juga mengingatkan agar tidak ada kelompok mahasiswa maupun elemen masyarakat yang bergerak di luar hasil konsolidasi. Ia meminta seluruh peserta aksi mengesampingkan perbedaan organisasi dan ego sektoral demi tujuan bersama.
“Kita ingin satu visi dan satu gerakan. Hilangkan sekat-sekat. Tujuan kita jelas, pemekaran Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah,” tegasnya.
Rapat konsolidasi tersebut dihadiri sejumlah tokoh aktivis Luwu Raya, di antaranya Muh. Ayyub Bayu Purnomo, Dr. Munawir, Dr. Fahrul Rizal, Wahyuddin Djafar, Dr. Abdul Rahman Nur, dan Hisma Kahman. Hadir pula perwakilan organisasi Cipayung, Pemuda Muhammadiyah, BEM se-Kota Palopo, serta tokoh masyarakat.
Usai rapat, forum sepakat menunjuk Ardi Dekal sebagai Jenderal Lapangan dan Fahrul Poyo sebagai Wakil Jenderal Lapangan. Keduanya langsung memimpin aksi pra-kondisi di sekitar traffic light Taman Baca Kota Palopo, yang berdekatan dengan kawasan Kedatuan Luwu.
Jenderal Lapangan Ardi Dekan mengajak seluruh elemen masyarakat bergabung Jumat, 23 Januari 2026, pukul 09.00 WITA di Lapangan Pancasila, Balai Kota Palopo. Aksi akan diawali dengan salat Jumat berjamaah sebelum long march menuju Bukit Sampoddo.
“Mari bersatu dalam gerakan damai untuk pemekaran Luwu Raya dan Luwu Tengah,” pungkasnya.
Diketahui, 21 Januari menandai Hari Jadi Luwu ke-758, sementara 23 Januari diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.
(Rs/Jn)

Tinggalkan Balasan