IPMIL RAYA 67 Tahun: Menakar Ulang Arah Perjuangan

Abd. Hafid Ansar Mustaring, Ketua PB IPMIL Raya Periode 2025-2027. (FT: Dok Pribadi)

SENTRUMnews.com, MAKASSAR – Hari ini, Selasa 5 Agustus 2025 Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (IPMIL RAYA) genap berusia 67 tahun.

Di usia yang tak lagi muda, organisasi ini memasuki fase kontemplatif untuk menakar ulang arah perjuangan dan relevansinya di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Ketua Pengurus Besar IPMIL RAYA, Abd. Hafid Ansar Mustaring, dalam pernyataan tertulisnya bertajuk “Quo Vadis IPMIL RAYA: Reorientasi Nafas Perjuangan”, menegaskan pentingnya refleksi terhadap jarak antara organisasi dan realitas sosial saat ini.

“Reorientasi nafas perjuangan bukan sekadar mengganti tema atau mengulang narasi lama dengan wajah baru. Ini soal merengkuh kembali semangat awal yang mulai memudar dalam kabut rutinitas seremonial,” kata Hafid.

Hafid menyebut, derasnya arus perubahan sosial dan pergeseran nilai di kalangan pemuda membuat IPMIL RAYA terasa mulai menjauh dari denyut masyarakat yang selama ini menjadi fokus perjuangan.

“Ruang-ruang diskusi yang dulu dinamis perlahan berubah menjadi forum formalitas. Semangat intelektual yang dulu tajam dan berpihak, kini terkadang tenggelam dalam retorika yang kehilangan pijakan sosial,” lanjutnya.

Kembali ke Akar Perjuangan

Reorientasi, kata Hafid, bukan bentuk kemunduran. Justru sebaliknya, langkah sadar untuk kembali pada nilai dasar perjuangan: berpihak pada rakyat kecil, menyuarakan ketimpangan, dan memperkuat identitas kedaerahan dalam bingkai keindonesiaan.

IPMIL RAYA sendiri berdiri sejak 1958, sebagai wadah perjuangan mahasiswa asal Luwu Raya di perantauan. Dalam perjalanannya, organisasi ini melahirkan banyak tokoh penting di tingkat lokal maupun nasional.

“Kini tantangannya bukan lagi bertahan, tapi bagaimana menjadi relevan. Baik secara nilai, strategi gerakan, maupun isu yang diangkat,” jelas Hafid.

Ia menegaskan, IPMIL RAYA harus kembali menjadi “rumah intelektual yang berpihak”. Bukan hanya kritis di forum, tapi juga nyata hadir di tengah masyarakat.

Tantangan Baru di Luwu Raya

Saat ini, Luwu Raya menghadapi tantangan yang kian kompleks: persoalan agraria, pendidikan, pengangguran pemuda, hingga kesenjangan akses informasi.

Hafid menyebut kondisi ini membutuhkan organisasi yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat dengan kebijakan publik yang tepat sasaran.

Menurutnya, perjuangan IPMIL RAYA ke depan harus lebih variatif: membangun jejaring, memperkuat advokasi berbasis data, serta meningkatkan literasi politik dan ekonomi di akar rumput.

Mengakhiri pernyataannya, Hafid menyampaikan harapan di hari jadi IPMIL RAYA ke-67.

“Selamat milad IPMIL RAYA ke-67. Bukan usia yang muda bagi sebuah organisasi. Di tengah terpaan zaman, tetaplah menjadi pohon yang tumbuh dan mekar — dengan akar yang kuat di tanah perjuangan, dan dahan yang menjulang ke langit harapan,” tutupnya. (Sn/Jn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Klik untuk Baca: