Pendemo Pemekaran Luwu Raya di Walmas Dibantu Warga Tebang Pohon, Kapolres Tetap Ngotot untuk Buka Akses
SENTRUMnews.com, LUWU — Aksi unjuk rasa menuntut pemekaran wilayah Luwu Raya kembali memanas. Massa tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu yang diinisiasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Luwu Raya (Ipmil-Raya), dibantu warga Kecamatan Walenrang Utara (Walmas), menebang pohon untuk memblokade jalan utama.
Aksi terjadi di Desa Buntu Awo, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sabtu (24/1/2026). Jalan yang diblokade merupakan jalur vital poros Trans-Sulawesi penghubung antarwilayah yang sering digunakan masyarakat untuk aktivitas ekonomi dan sosial.
Pemblokiran jalan ini menjadi lanjutan aksi protes selama dua pekan terakhir di Tana Luwu, sekaligus bertepatan dengan Hari Jadi Luwu ke-758 dan peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-80 pada 23 Januari 2026 kemarin.
Massa menyebut penutupan jalan sebagai bentuk tekanan politik kepada pemerintah agar segera merealisasikan pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Sejumlah pohon besar ditumbangkan tepat di badan jalan, sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Selama blokade, hanya ambulans yang diperbolehkan lewat, sementara kendaraan lain diarahkan menggunakan jalur alternatif.
Kapolres Turun, Negosiasi Buntu
Merespons situasi, Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu turun langsung ke lokasi untuk bernegosiasi. Namun, upaya persuasif tidak membuahkan hasil.
“Kami sudah berusaha membujuk baik-baik untuk membuka jalan. Tapi sepertinya mereka bersikeras,” ujar Adnan kepada wartawan di lokasi.
Adnan menegaskan, pembukaan jalan tetap akan dilakukan demi kepentingan umum, karena pemblokiran mengganggu mobilitas masyarakat.
“Mau tidak mau, untuk kepentingan umum, kami akan bersihkan jalan ini,” tegasnya.
Saat ditanya hasil negosiasi, Adnan menyebut massa aksi menolak membuka akses jalan. “Mereka bertahan untuk tidak membuka,” katanya.
Ia menegaskan keputusan membuka jalan merupakan langkah kepolisian. “Ya harus kami buka ini,” ucapnya singkat.
Di sisi lain, Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu, Alif Nugraha, menyatakan penutupan jalan merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap pemerintah yang belum serius merealisasikan tuntutan pemekaran.
“Dua tuntutan itu menjadi fokus utama kami dalam aksi yang telah berlangsung selama dua hari ini,” ujar Alif.
Ia menegaskan aksi penutupan jalan akan terus berlanjut hingga pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberikan respons konkret.
“Ini adalah bentuk kemarahan, keresahan, dan kekecewaan kami terhadap pemerintah. Aksi ini tidak akan berhenti hari ini,” tegasnya.
Diketahui, pemblokiran jalan di Walmas telah berlangsung sejak Jumat pagi (23/1/2026). Hingga hari kedua aksi, aparat kepolisian tetap menjaga ketat situasi untuk mengantisipasi eskalasi konflik.
(Rs/Jn)

Tinggalkan Balasan