SENTRUMNEWS.COM

Informasi Menginspirasi

Akademisi Inggris Sebut Rakyat Tana Luwu Kenal Demokrasi Sebelum Barat Lewat I La Galigo

Akademisi University of Nottingham, Inggris, Bagus Muljadi. (FT: Dok. Ist)

SENTRUMnews.com, JAKARTA — Akademisi University of Nottingham, Inggris, asal Indonesia, Bagus Muljadi, menyoroti pandangan akademisi Tanah Air yang masih terlalu terpaku pada narasi Barat. Ia menyebut rakyat Tana Luwu telah mengenal prinsip demokrasi jauh sebelum konsep itu muncul di Eropa, sebagaimana tercermin dalam I La Galigo.

Menurut Bagus, kitab abad ke-9 itu memuat gagasan pembatasan kekuasaan raja dan mekanisme pemerintahan mirip demokrasi representatif, menunjukkan tradisi politik dan intelektual Nusantara yang sering terpinggirkan.

Pandangan itu disampaikan Bagus dalam podcast CEMAS (Cerita Masyarakat) yang dipandu konten kreator Rian Fahardi. Podcast berdurasi 1 jam 19 menit ini tayang pada akhir Desember 2025 dan kembali ramai diperbincangkan setelah potongan videonya viral di media sosial.

Akademisi Bagus Muljadi dan Rian Fahardi dalam podcast CEMAS, Desember 2025 lalu. (FT: Dok. Ist)

I La Galigo, Bukti Demokrasi Nusantara
Dalam podcast, Bagus mengangkat I
La Galigo, epos kuno Bugis dari Tana Luwu, Sulawesi Selatan, sebagai contoh bahwa konsep demokrasi representatif tidak semata lahir dari tradisi Eropa modern.

“La Galigo itu sangat penting karena di dalamnya ada kosmologi, environmental ethics (etika lingkungan), dan yang paling penting juga ada proto-demokrasi representatif,” ujar Bagus, dikutip Jumat (16/1/2026).

Menurut Bagus, demokrasi representatif selama ini sering dikaitkan dengan pemikiran Eropa pasca-Renaissance, seperti gagasan Montesquieu pada abad ke-17. Padahal, kitab I La Galigo yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 telah lebih dulu memuat gagasan pembatasan kekuasaan raja.

“Orang tahunya demokrasi representatif itu harus ada dewan, parlemen, eksekutif. Itu dianggap datang dari Renaissance. Tapi La Galigo abad ke berapa? Sembilan. Ratusan tahun sebelum itu,” jelasnya.

Bagus menambahkan, dalam La Galigo, raja tidak memegang kekuasaan penuh. Kekuasaan harus disahkan dan diawasi oleh dewan, bahkan melalui proses pemilihan.

“Dia sudah tahu bahwa raja itu tidak berkuasa penuh, harus dipilih oleh dewan,” ujarnya.

Warisan Nusantara Terpinggirkan
Kitab I La Galigo dikenal sebagai epos terpanjang di dunia yang mengisahkan tokoh legendaris
Sawerigading dari Tana Luwu. Naskah ini memuat mitos penciptaan dan sejarah awal masyarakat Bugis, serta telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World.

Meski demikian, Bagus menilai warisan intelektual Nusantara tersebut jarang dijadikan rujukan serius dalam diskursus akademik maupun pendidikan di Indonesia. Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang menurutnya kerap “berbohong pada diri sendiri” dengan meremehkan kapasitas intelektual leluhur Nusantara.

“Ini soal berani melihat ulang diri kita sendiri,” tegas Bagus, sambil menyinggung jejak pengetahuan Nusantara dalam sains modern, termasuk dari Jawa, yang jarang diangkat dalam wacana arus utama.

Episode podcast CEMAS ini menuai respons luas, terutama dari kalangan anak muda dan akademisi. Banyak yang menilai diskusi itu relevan dengan upaya dekolonisasi pengetahuan dan pendidikan di Indonesia.

(Sn/Jn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Klik untuk Baca:

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!