SENTRUMNEWS.COM

Informasi Menginspirasi

Pandu Juara Lutim Gelar FGD, Bahas Strategi Desa Sebelum Jelajah Perkebunan Nanas di Kediri

Suasana FGD Pandu Juara di Hotel Santika Blitar, Selasa malam (21/10/2025). Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam memimpin langsung diskusi bersama kepala desa, BPD, dan BUMDes bahas strategi pengembangan desa. (FT: Dok. Hms)

ENTRUMnews.com, JAWA TIMUR — Sebelum melanjutkan studi lapangan ke sentra pertanian, rombongan Pandu Juara dari Kabupaten Luwu Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Santika Blitar, Selasa malam (21/10/2025). Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus pematangan strategi pengembangan desa berbasis hasil kunjungan.

FGD dipimpin langsung oleh Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam atau Ibas, didampingi pendamping ahli dan Ketua Apdesi Lutim. Dalam forum ini, peserta diminta mempresentasikan temuan lapangan dari berbagai lokasi studi tiru di Jawa Timur, termasuk pengelolaan bandeng, cokelat, hingga agrowisata nanas.

Menurut Ibas, FGD menjadi momen penting untuk mengubah catatan menjadi rencana aksi nyata di desa masing-masing. Ia menegaskan bahwa Pandu Juara bukan sekadar kunjungan, melainkan investasi pengetahuan demi kemajuan desa di Luwu Timur.

“Ini bukan perjalanan dinas biasa. Ini investasi pengetahuan. Saya kawal dari awal supaya semua yang kita pelajari bisa benar-benar diterapkan di desa masing-masing,” tegas Ibas dalam keterangannya, Rabu (22/10/2025).

FGD Jadi Dapur Strategi Desa
FGD tersebut diikuti oleh perwakilan OPD, kepala desa, BPD, hingga BUMDes dari Luwu Timur. Mereka diminta menyampaikan key findings dari rangkaian kunjungan sebelumnya—mulai dari pengelolaan bandeng di Gresik, pengolahan cokelat di Blitar, hingga peternakan ayam petelur modern.

Menurut Ibas, forum ini bukan sekadar sesi laporan, melainkan langkah konkret untuk menyusun rencana aksi yang jelas dan terukur.

“Peserta harus mulai menyusun program berbasis hasil studi. Harus jelas targetnya, waktunya, dan anggarannya. Jangan berhenti di catatan,” ujarnya.

FGD Lahirkan Rencana Bisnis Desa
Pendamping ahli Pandu Juara, Dr. (Cand) Afrianto, M.Si, menyebut FGD ini sebagai ruang strategis untuk melahirkan business plan setiap desa. Ia menekankan pentingnya kemampuan desa dalam mereplikasi serta memodifikasi praktik terbaik yang mereka lihat selama kunjungan.

“Replikasi dan modifikasi jadi indikator keberhasilan Pandu Juara. Ini bukan hanya meniru, tapi menyesuaikan dengan potensi lokal,” jelas Afrianto.

Studi Lapangan: Belajar dari Nanas Sempu
Keesokan harinya, Rabu (22/10), rombongan Pandu Juara bertolak ke Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Desa ini dikenal sukses mengembangkan komoditas nanas sebagai tulang punggung ekonomi dan agrowisata.

Rombongan disambut dengan sajian sari nanas khas desa, lalu diajak menjelajah kebun nanas seluas ribuan hektare menggunakan mobil Jeep wisata. Mereka bahkan diajak langsung memetik nanas madu dari pohonnya.

Rombongan Pandu Juara Luwu Timur mengunjungi kebun nanas Desa Sempu, Kediri, Rabu (22/10/2025). (FT: Dok. Hms)

Ibas mengaku terinspirasi dengan konsep integrasi pertanian, produk olahan, dan wisata edukatif yang diterapkan di Sempu. “Konsep ini akan kami bawa ke Desa Tabarano. Kami ingin Wasuponda punya sentra nanas seperti Sempu,” ucapnya.

Ia juga menyebut Pemkab Luwu Timur akan mendatangkan bibit nanas dari Kediri untuk dibudidayakan di Kecamatan Wasuponda yang dinilai punya karakter geografis serupa.

Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, salah satu peserta FGD dan kunjungan lapangan, menyatakan kesiapannya mengembangkan kawasan agrowisata dan agroindustri di desanya.

“Kami akan mulai dari pemetaan wilayah, lalu membangun infrastruktur pendukung agar desa kami tak hanya produktif, tapi juga layak dikunjungi,” kata Rimal.

Pandu Juara: Dari Catatan Jadi Aksi

Dengan rangkaian FGD hingga studi lapangan, program Pandu Juara menegaskan diri bukan sekadar kunjungan seremonial. Di bawah kepemimpinan Ibas, program ini diarahkan untuk membangun peta jalan ekonomi desa berbasis potensi lokal.

“Ini tentang bagaimana desa bisa membangun dirinya sendiri. Kita sedang menyemai harapan di tanah kita sendiri,” pungkas Ibas.

FGD Pandu Juara membuktikan bahwa perubahan desa dimulai dari semangat belajar dan keberanian bertindak. Dengan kolaborasi, visi yang jelas, dan rencana nyata, desa-desa di Luwu Timur kini tak hanya bicara potensi, tapi siap menjadi pusat inovasi dan pertumbuhan ekonomi lokal.

(Rs/Gb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Klik untuk Baca:

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!