SENTRUMNEWS.COM

Informasi Menginspirasi

Stok Beras Bulog Tembus 4,2 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah tapi 29.990 Ton Turun Mutu

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman. (FT: Dok. Ist)

SENTRUMnews.com, JAKARTA — Stok beras Perum Bulog tercatat menembus 4,2 juta ton, jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Di atas kertas, angka ini terlihat sebagai prestasi besar dalam menjaga cadangan pangan nasional. Namun, di balik itu, muncul persoalan serius soal penurunan mutu dan risiko kerusakan beras.

Data terbaru menunjukkan sebanyak 29.990 ton beras di gudang Bulog mengalami penurunan mutu. Sementara itu, 1,45 juta ton beras lainnya sudah disimpan lebih dari enam bulan, melewati batas aman penyimpanan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menilai kondisi ini disebabkan oleh kebijakan penyerapan gabah yang tak memperhatikan kualitas. Ia menyebut Bulog cenderung melakukan penyerapan secara serampangan.

“Membeli gabah tanpa mempertimbangkan kualitas, itu seperti memasak dengan bahan basi. Hasilnya pasti tak layak konsumsi,” kata Alex dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Parlementaria, Jumat (10/10/2025).

Alex merujuk pada surat penugasan Badan Pangan Nasional (Bapanas) tertanggal 18 September 2025 yang kembali memerintahkan Bulog untuk menyerap gabah dan beras selama Semester II/2025. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi panen gadu yang diprediksi berlangsung hingga Desember.

Namun, menurut Alex, penugasan ini belum dibarengi dengan pembenahan manajemen dan sistem pengelolaan yang lebih baik. Ia menilai kebijakan tersebut justru memperparah kondisi.

“Bahan bakunya bermasalah, penyimpanan melebihi kapasitas, tata kelola amburadul. Kekacauannya komplet,” ujarnya.

Temuan ini diperkuat hasil inspeksi mendadak Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, ke Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, pada 23 September lalu. Dari kunjungan itu, ditemukan sekitar 1.200 ton beras dalam kondisi turun mutu.

“Jika tidak ditangani, beras yang turun mutu akan jadi beras rusak. Dan ini akan terus berulang,” kata Alex.

Politisi PDI Perjuangan ini, menyoroti lonjakan stok yang dianggap sebagai indikator keberhasilan justru menyimpan risiko besar. Ia mengingatkan, pada semester sebelumnya Bulog hanya ditugaskan menyerap 10 persen dari hasil panen. Namun, implementasinya di lapangan menyebabkan stok membengkak.

“Secara statistik ini prestasi. Tapi kita juga dihadapkan pada tantangan nyata di lapangan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya efisiensi penggunaan dana negara oleh Bulog, meski bukan lembaga pencari keuntungan. Alex menilai kerusakan beras bisa berujung pada kerugian besar bagi rakyat dan keuangan negara.

“Kalau beras itu rusak, rakyat tak bisa makan, dan uang negara melayang. Ini soal tanggung jawab,” pungkasnya.

Penyerapan gabah dan distribusi beras bukan hanya soal ketersediaan pangan. Ia menyentuh hajat hidup petani, efisiensi anggaran negara, hingga kepercayaan publik terhadap tata kelola pangan nasional. Saat beras menumpuk tapi mutu merosot, itu bukan prestasi tapi alarm bahaya.?

(Sn/Sn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Klik untuk Baca:

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!